Bandar Ceme Online

Selamat datang di FORUMSEMPROT, terima kasih tetap setia mengunjungi situs ini. Kami Akan Selalu Update Cerita Serta Video Terbaru Disini ^^

Yuk Gabung Di KAISAR.POKER, Ada Banyak Bonus Menarik Disini, Buruan Daftar Sekarang Juga!!!

Rabu, 02 Januari 2019

Tania, Budak Seks Dosen Pembimbing Part II

Chapter 2: Malam Pertama dengan Pak Darmawan




Setelah aku dilemparkan ke atas kasur, ternyata Pak Darmawan tidak langsung menyetubuhiku. Beliau keluar ruangan dengan dalih ingin mengambil sesuatu dulu. Aku yang merasa sudah terlanjur kepalang hanya bisa mengikuti alur permainan dosen pembimbingku itu.

“Nah, kamu minum dulu ini.” Pak Darmawan memberikanku satu strip obat KB dengan segelas air. “Kalau enggak mau hamil.”

Aku bergidik ngeri membayangkan sperma Pak Darmawan benar-benar membuahi sel telurku. Mau jadi apa aku nanti? Jadi, aku langsung menelan satu kaplet obat KB dan berjanji dalam hati bahwa aku tidak akan lupa untuk meminumnya setiap hari.

“Nah, bagus.” Pak Darmawan menghampiriku yang kini duduk telanjang di pinggir ranjang. “Sekarang kamu telentang. Buka tuh paha lebar-lebar.”

Aku mengikuti perintah Tuan baruku. Aku menelentangkan diri di tengah ranjang dengan paha yang kubiarkan terbuka lebar, mempertontonkan lubang vaginaku yang sudah basah oleh lendir kewanitaanku sendiri.

“Dasar jalang, liat tuh lobang banjir sama lendir. Segitunya pengen dimasukin kontol, hah?”

Aku merasakan debaran-debaran aneh setelah Pak Darmawan lagi-lagi melecehkanku. Bukannya marah, aku malah semakin terangsang.

“Jawab, pengen dimasukin kontol gak itu lobang?”

“Eh i-iya, Tuan. Lobang Tania pengen dimasukin kontol.” jawabku pelan.

Pak Darmawan tersenyum mesum mendengar jawabanku. “Gatel ya lobangnya?”

“Iya Tuan, lobangnya Tania gatel, pengen digaruk sama kontol Tuan.” aku tanpa sadar mulai menggeliat pelan di tempatku.

“Bagus. Gitu dong kalau jadi lonte.”

Pak Darmawan menghampiriku, kemudian menindih tubuhku di atas ranjang.

“Nih, saya bimbing kamu biar jadi lonte yang bener.” ujar Pak Darmawan sebelum mencium bibirku.

Ciuman Pak Darmawan terasa kasar di bibirku. Rasanya Pak Darmawan tidak sabaran dengan langsung melumat-lumat bibirku dan memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Aku yang kewalahan terang saja mendorong-dorong dadanya untuk mengatakan bahwa aku perlu bernafas.

Setelah melepaskan ciumannya, Pak Darmawan terkekeh melihatku menghirup udara banyak-banyak.

Tanpa menunggu waktu, bibir Pak Darmawan berpindah untuk menciumi leher jenjang dan dada sintalku. Aku memekik ketika Pak Darmawan dengan sengaja menggigit leherku untuk meninggalkan bekas.

“Saya tandain biar temen-temen kamu tau kalau kamu bisa dipake.”

Aku hanya bisa mendesah-desah ketika dikerjai oleh Pak Darmawan. Aku yakin jam terbangnya sudah tinggi mengingat umurnya yang tidak lagi muda, jadi sentuhan-sentuhannya terasa nikmat di tubuhku.

“Aaahhhh Tuan, mmhhh enak Tuan.” desahku ketika Pak Darmawan memainkan kedua payudaraku dengan tangan dan mulutnya.

Aku menggelinjang di atas ranjang ketika Pak Darmawan dengan lihainya memilin-milin puting susuku dan menjilat ujungnya sekaligus, sementara sebelah tangannya yang lain meremas-remas payudara sintalku.

“Geli Tuan, enaakk hhh.”

Aku tanpa sadar meremas rambut Pak Darmawan sambil mendorong kepalanya agar lebih dekat dengan payudaraku. Pinggulku naik turun karena hasratku yang tidak terbendung. Mungkin ini terasa sangat nikmat mengingat hampir setahun aku tidak disentuh laki-laki.

Pak Darmawan menghentikan rangsangannya pada tubuhku, lalu berlutut di depanku yang masih telentang terengah-engah. Aku mendengar Pak Darmawan tertawa sambil memperhatikanku yang kewalahan dalam mengendalikan nafsuku sendiri.

“Tadi bilang gak mau, habis digodain malah keenakan.”

“Ahh!”

Aku memekik setelah tiba-tiba Pak Darmawan mencubit sambil menarik kedua putingku keras-keras. Pak Darmawan terus menarik putingku ke arahnya hingga aku berusaha bangun dari posisi telentang.

“Sakit, Tuan! Lepas!”

Baru saja aku ingin menopang berat tubuhku dengan tangan, Pak Darmawan tiba-tiba saja melepas puting susuku, membuatku jatuh dan kembali dalam posisi telentang. Kudengar Pak Darmawan tertawa-tawa melihatku berantakan akibat ulahnya.

“Jadi lonte jangan mau enaknya aja. Emangnya saya dibayar buat nyenengin kamu?”

“N-Nggak, Tuan.”

“Sekarang balik badan!”

Aku membalikkan badan hingga sekarang berada di posisi tengkurap. Puting susuku yang barusan ditarik-tarik Pak Darmawan semakin tegang ketika tergesek dengan seprai. Tapi itu tidak berlangsung lama karena Pak Darmawan menarik pantatku ke atas sehingga kini aku ada dalam posisi menungging.

Aku mendengar Pak Darmawan melepaskan pakaiannya dan menjatuhkannya ke lantai. Karena sudah cukup lama menungging tanpa disentuh, tanpa sadar aku mengedutkan vaginaku.

“Gak sabar banget itu memek.” Pak Darmawan menyentil klitorisku agak keras, membuatku memekik menahan linu. “Dasar bakat lonte.”

Aku masih mengendalikan rasa linu di klitorisku ketika tiba-tiba Pak Darmawan memasukkan sebuah dildo ke dalam vaginaku.

“Aahhh…”

Vaginaku yang sebelumnya absen satu tahun tanpa dimasuki penis kini dipaksa melebar oleh sebuah dildo berukuran sedang. Walaupun dulu aku pernah beberapa kali melakukan hubungan seks, penetrasi kali ini terasa agak perih.

“Nih biar lebih enak.”

“Ahhh Tuan! Ah, geli!”

Dildo yang berada di dalam vaginaku tiba-tiba bergerak berputar, mengoyak-ngoyak dinding kewanitaanku. Aku hanya bisa mendesah-desah sambil mencengkram seprai. Aku tidak bisa berbohong bahwa rasanya memang nikmat.

“Jangan berani-berani orgasme atau saya hukum.” ucap Pak Darmawan seraya menggerakkan dildo di vaginaku maju mundur.

“Ooohh Tuan, enak Tuan. Ahhh…”

Aku masih meracau tidak jelas sambil mencengkram seprai dengan lebih erat. Aku berusaha semampuku untuk menunda orgasme dengan mencoba memikirkan hal lain, tapi rasa nikmat ini benar-benar menguasaiku.

“Nyodoknya kurang cepet ya?” Pak Darmawan memandangiku yang kepayahan seraya terkekeh. “Nih dicepetin.”

“Aaahhh Tuan, enak banget Tuan, ngghhh, ampuuun.”

Aku makin meracau tidak karuan ketika sodokan dildo di vaginaku menjadi lebih intens. Titik-titik kenikmatanku dihajar secara tepat oleh sebuah mainan yang kini bersarang di kemaluanku dan aku malah keenakan karenanya.

“Nggak kuat, Tuan, enak bangeeet nggghhh.” aku menggerakkan pantatku untuk berusaha menghindari sodokan dildo di titik kenikmatanku walaupun rasanya hampir tidak mungkin.

“Dasar lonte haus kontol kamu, Tania. Nggak pantes kamu jadi mahasiswi. Pantesnya jadi cewek BO.”

Mendengar kata-kata Pak Darmawan, vaginaku malah semakin banjir oleh cairan kenikmatan. Suara dildo yang menumbuk vaginaku yang becek menambah nafsu di dalam diriku.

Tidak berapa lama, badanku menyerah pada kenikmatan yang melanda secara intens. Pahaku menegang, vaginaku berkedut kencang, punggungku melengkung.

“Aahhh Tania nyerah Tuan, Tania nyerahhh ahhhh…”

Aku orgasme hebat sementara Pak Darmawan masih terus menyodok-nyodok dildo di vaginaku dengan cepat. Tubuhku bergetar, pantatku bergerak maju mundur, mataku merem-melek keenakan. Aku tidak menyangka bahwa aku bisa orgasme sehebat ini hanya karena sebatang dildo.

“Dasar lonte sialan.” Pak Darmawan membiarkan vaginaku tetap terisi dildo, namun sekarang beliau sudah tidak memegangnya lagi.

Baru saja aku ingin menormalkan nafas, tiba-tiba saja getaran di vaginaku terasa lebih kencang. Aku yang sudah kepayahan kemudian jatuh dari posisi menungging menjadi tengkurap.

“Udah, Tuan. Tania capek…”

“Lu tuh lonte, gak berhak ngatur-ngatur.”

Ctas!

Tiba-tiba saja pantatku dicambuk oleh ikat pinggang.

“Ahhh, sakit Tuan. Ahhh, sakit.”

Cambukan ikat pinggang di pantatku datang dengan bertubi-tubi hingga pantatku terasa panas. Aku berusaha membalikkan tubuh, namun cambukan Pak Darmawan tidak berhenti hingga vaginaku pun terkena cambuk.

“Berhenti, Tuan, aahhhhh sakiiittt.”

“Suruh siapa kamu orgasme, lonte?” Pak Darmawan semakin semangat mencambuk tubuhku. “Ini hukumannya karena kamu nggak ngikutin perintah saya.”

“M-Maaf, Tuan, mmhhh.” aku menggeliat menahan rasa sakit dan rasa nikmat yang perlahan mulai menjalari tubuhku lagi. “Maafin Tania, Tuan-hhh.”

Beberapa detik kemudian, Pak Darmawan melempar ikat pinggang yang dipegangnya ke lantai dan mencabut dildo yang sedari tadi bersarang di vaginaku. Badanku lalu diposisikan menjadi telentang sementara Pak Darmawan bersiap memasukkan penisnya di depan vaginaku.

“Saya masih baik ya sama kamu, kalau enggak bisa habis pantat kamu saya cambuk.” Pak Darmawan kemudian memasukkan penisnya dengan lancar ke dalam vaginaku. “Longgar juga ini lobang.”

Dibandingkan dengan ukuran dildo barusan, penis Pak Darmawan memiliki ukuran yang tidak jauh beda. Bedanya, penis Pak Darmawan terasa lebih hangat.

“Saya entot kamu ya lonte, rasain nih kontol saya.” Pak Darmawan langsung menggerakkan penisnya menyodok-nyodok vaginaku yang sudah banjir.

“Ahhhh, enak, mmhhh... Tania suka-hhh…” aku yang mulai naik birahi kembali mendesah-desah di bawah Pak Darmawan.

Plak!

Belum puas dengan mencambuk pantatku, Pak Darmawan menampar payudaraku.

“Dasar cewek perek.”

Plak!

“Capek-capek dikuliahin, ujung-ujungnya ngangkang juga di bawah dosen.”

Plak!

“Liat tuh muka kamu, nggak kalah sama bintang bokep.”

Aku merasa semakin terangsang mendengar kata-kata Pak Darmawan yang melecehkanku. Rasa sakit di payudaraku akibat tamparan Pak Darmawan juga malah menimbulkan gelenyar-gelenyar nikmat di dalam diriku.

“Ahhh ampun Tuan, enak, sodok terus, ahhh.”

Tubuhku terguncang-guncang di atas ranjang seiring dengan sodokan penis Pak Darmawan di vaginaku. Tanganku menggapai-gapai seprai, meremasnya hingga kini bentuknya sudah tidak beraturan. Keringat membasahi tubuhku yang sebelumnya sudah orgasme hingga dua kali. Pekikan-pekikan nikmat keluar dari tenggorokanku yang mulai kering.

“Perempuan jalang kamu Tania.” Pak Darmawan mempercepat sodokannya. “Cepet sebut siapa kamu!”

“Jalang, Tuan! Tania perempuan jalang! Ahhh…” aku mulai bergetar di bawah kuasa Pak Darmawan.

“Lepas sekarang! Keluarin!”

“Aaaahhhhh Tuan!”

Aku refleks memeluk pundak Pak Darmawan saat pelepasanku terjadi lagi. Pinggulku bergerak-gerak mencari kenikmatan yang lebih lagi. Ini orgasme yang ketiga untuk hari ini dan aku mulai lelah walaupun rasanya memang sangat nikmat.

Pak Darmawan yang belum mencapai puncaknya terus menyodok vaginaku dengan kasar walaupun vaginaku terasa sangat linu.

“Ahh cukup Tuan, cukup…”

“Dasar lonte kamu Tania, rasain nih sperma saya.”

Tak lama kemudian, cairan hangat memenuhi rahimku. Aku hanya bisa berharap semoga sperma Pak Darmawan cepat-cepat meluruh dari dinding rahimku.

Pak Darmawan melepaskan penisnya dari vaginaku, lalu berdiri untuk menatapku yang kepayahan.

“Udah, kamu boleh pulang sekarang.”

Aku menatap Pak Darmawan tidak percaya. Aku masih sangat lelah dan aku harus menyetir kendaraan sendiri untuk pulang ke kos?

“Kenapa? Mau nginep di sini? Nggak, istri saya pulang besok pagi.” Pak Darmawan menarikku dari atas kasur lalu membiarkanku jatuh di lantai.

Dengan sisa-sisa tenaga, aku berdiri dari posisiku. Aku sedikit membuka pahaku karena pahaku yang masih terasa agak kebas. Perlahan, aku berjalan menuju tumpukan pakaianku di sisi lain ruangan.

“Heh, siapa suruh kamu ambil baju kamu?” Pak Darmawan menyentak tanganku hingga aku terjatuh lagi di lantai. “Cepet pulang sana!”

“S-Saya pakai baju apa T-Tuan?”

“Memangnya ada peraturan kalau nyetir harus pake baju?”

Oh, shit. Aku tidak ingin masuk ke dalam kosan dalam keadaan tanpa pakaian. Bagaimanapun juga, ada CCTV yang mengawasi bagian garasi kosanku.

“T-Tapi Tuan—“

“Nggak ada alasan, keluar kamu sana!”

Pantatku kemudian ditendang-tendang oleh Pak Darmawan sehingga mau tidak mau aku merangkak keluar dari kamar Pak Darmawan. Setelah aku keluar, pintu kamar tersebut dibanting dan dikunci. Aku yang kalut kemudian menggedor-gedor pintu kamar Pak Darmawan dan memanggil-manggil dosenku itu, tapi yang kudengar hanya suara gemericik air dari kamar mandi di dalam kamar.

“Neng, ada apa ribut-ribut?”

Ah, itu suara supir Pak Darmawan yang tadi menyambutku ke sini. Duh, aku harus menutupi tubuhku pakai apa?

“Neng?”

Supir Pak Darmawan kini sudah berdiri di dekatku yang hanya meringkuk di dekat pintu kamar Pak Darmawan dengan keadaan telanjang.

“P-Pergi! Pergi Pak!”

Tanpa disangka, supir Pak Darmawan itu malah menyunggingkan senyum licik nan mesum. “Kunci mobil neng ada di saya. Yakin saya harus pergi?”

Sial seribu sial. Apa lagi ini?

“Gini aja neng. Saya udah denger dari den Gilang kalau neng bisa dipake. Mending neng muasin saya dulu, nanti saya kasih kunci mobilnya neng. Gimana?”

Aku ingin menangis mendengar penawaran supir Pak Darmawan. Tidak hanya dipakai oleh dosenku saja, tubuhku bahkan dipakai oleh seorang supir yang bahkan status sosialnya jauh di bawahku.

“Saya pergi nih ya, neng jangan nyesel.”

“Pak, tunggu!” aku akhirnya mengalah dan memilih menyerah saja. Toh tubuhku sudah terlanjur kotor.

“Gimana neng? Mau?”

“B-Boleh, Pak. Tapi saya juga mau minta baju sama Bapak.”

“Urusan gampang itu mah neng. Yang penting neng bisa muasin Bapak.”

Aku kemudian dibawa menuju garasi rumah Pak Darmawan di mana mobilku terparkir. Supir Pak Darmawan lalu menelentangkan tubuhku tepat di atas kap mobilku yang bertipe sedan.

“Pak, di bawah aja, jangan di sini Pak.” aku memohon pada supir Pak Darmawan seraya berusaha turun dari kap mobil.

“Udah biasa neng kalau di bawah. Neng juga belum nyoba ngentot di kap mobil, kan?”

“Tapi Pak—“

“Udah neng nurut aja sama saya, biar cepet beres.”

Menyetujui omongan supir Pak Darmawan, aku akhirnya pasrah saja telentang di atas kap mobilku sendiri sementara supir Pak Darmawan melepas seluruh pakaiannya.

“Neng, sepongin nih.” supir Pak Darmawan menyodorkan penisnya yang jauh lebih besar dari majikannya ke depan mulutku. “Yang jago ya.”

Dengan tekad agar cepat selesai, aku mulai mengulum penis supir Pak Darmawan dengan semangat. Aku memasukkan sebagian batang penisnya ke dalam mulutku, sementara sebagian lagi aku kocok menggunakan tangan. Sesekali aku menjilati kepala penisnya dan menjilati buah zakarnya yang menggantung.

“Ahh, jago juga si neng.”

Aku semakin bersemangat mendengar pujian dari supir Pak Darmawan. Aku lalu mengocok batang penisnya sambil menjilati lubang kencingnya perlahan. Aku juga menjilati seluruh batang penisnya perlahan-lahan hingga supir Pak Darmawan terlihat kegelian.

“Tahan neng, udah dulu sepongnya.” supir Pak Darmawan kemudian memposisikan kejantanannya di depan lubang vaginaku yang sudah lengket. “Mau ngerasain memeknya neng.”

Tanpa hambatan yang berarti, penis supir Pak Darmawan masuk ke dalam vaginaku yang sudah lengket. Dibandingkan Pak Darmawan, jelas sekali bahwa stamina supir Pak Darmawan lebih tinggi. Tubuhku terhentak-hentak di atas mobilku yang ikut bergoyang-goyang karena ulah supir Pak Darmawan.

“Ahhh Pak, ahhh geliihhh…”

Walaupun sudah berkali-kali orgasme, aku tidak menampik bahwa aku masih merasakan kenikmatan saat ditusuk oleh penis supir Pak Darmawan. Apalagi ukurannya yang lebih besar membuat ruang vaginaku terasa lebih sesak.

“Memeknya neng legit, beda sama perek yang biasanya saya sewa.” supir Pak Darmawan berujar di sela-sela kesibukannya menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam vaginaku.

Setelah setengah jam, penis supir Pak Darmawan masih tegak dan belum ada tanda-tanda akan keluar. Aku yang frustrasi kemudian membuat dinding-dinding vaginaku berkontraksi agar supir Pak Darmawan cepat orgasme. Walaupun membuatku lebih terangsang, untung saja usahaku berhasil karena supir Pak Darmawan semakin kencang menyodokkan penisnya.

“Ahh neng, terima nih peju saya.”

Supir Pak Darmawan menyemburkan spermanya di dalam rahimku dan aku yakin kini sudah bercampur dengan sperma milik majikannya. Aku pun kembali orgasme saat supir Pak Darmawan menyemburkan spermanya di dalam rahimku. Lemas, aku membiarkan supir Pak Darmawan mengistirahatkan dirinya sejenak di atas tubuhku.

“Makasih ya neng.” supir Pak Darmawan kemudian bangkit dari posisinya, lalu menurunkanku untuk bersandar di mobilku. “Nih pake baju saya aja, sekalian kenang-kenangan buat neng.”

Aku kemudian diberikan kaus yang tadi dipakai oleh supir Pak Darmawan. Walaupun hanya kaus, tapi setidaknya itu lebih baik daripada tidak memakai sehelai kain sama sekali. Sesuai janjinya, aku juga diberikan kunci mobilku yang sebelumnya kutitipkan.

“Gak capek neng abis ngentot langsung nyetir?” tanya supir Pak Darmawan sambil nyengir ke arahku.

“Nggak apa-apa Pak, saya mau tidur.” aku membalas sekadarnya sebelum masuk dan menyalakan mesin mobil. “Makasih kausnya ya Pak.”

“Ngentotnya enggak?”

Aku mendengus sebal. “Iya, itunya juga.”

“Apanya tuh neng?”

“Ngentotnya.” jawabku malas.

Supir Pak Darmawan hanya tertawa-tawa, membuatku makin kesal saja.

“Yaudah neng, hati-hati di jalan ya.”

Setelah dibukakan pagar, aku menyetir menuju kosanku dan segera tidur sesampainya aku di sana, bahkan tanpa sempat membersihkan diri dan berganti pakaian. Hari yang sangat melelahkan hingga tanpa sadar aku tertidur dengan paha yang terbuka.

BERSAMBUNG...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar


×
AGEN JUDI POKER ONLINE TERPECAYA